Membaca dee (Dewi lestari)http://dee-idea.blogspot.com/ sama seperti membaca Jendral Abdul Haris Nasution. Keduanya punya kesamaan, intelektual yg “menyamar” menjadi dunia yg berbeda. Dee biasa dikenal, sosok beuty-smart yg jarang kita temuan, kesatuan dua anugrah tuhan pada satu sosok.
Lebih dari sekedar intelektual, dee bisa kita sebut filosof. Apa pasal, cara dia mengekplorasi gagasan menjelaskan bahwa dia bukan hanya sekedar memahami satu persoalan dengan analisis tajam tetapi juga menjelaskan betapa dia menguasai banyak disiplin pengetahuan.
Membangun kualitas diri sehebat Dee tidaklah mudah, selain bakat diri, dia juga pasti mengasahnya setiap saat, memformulasikan model dan melakukan ‘litle-execise’ terus-menerus, sampai pada satu situasi yg menyadarkan kita bahwa ada artis sekaliber dee. Exelence.
Hal menarik dari dee, dia bisa menyatukan dunia berbeda. Apa yg kita imagekan tentang artis yg hanya bermodal beuty without smart, dipupus dee. Buat dee menjadi artis, dan bergelimang materi tidak membuatnya lepas dari pengembangan kualitas diri. Tentu ia banyak menghabiskan waktu panjangnya pada pembelajaran tiada henti.
Dalam keseharian kita juga sering menemukan ‘kontradiksi’. Sepintas kita menyebutnya berlawan, tapi dalam dunia banyak orang yg sukses menyatukan dua tradisi berlawanan itu. Atau sebetulnya, hal yg kita anggap saling bertentangan sebetulnya tidak berlawanan, hanya karena kita sebagai makhluk yg slalu ingin melakukan ‘diferensiasi’ (mencari apa yg beda) membuat kita mengindentifikasi banyak hal dari sisi bedanya. Termasuk saat Adam di surga, apa yg membedakan manusia dengan lainnya. Karena adam mengajarkan nama2, yg tidak lain, identifikasi item atas sesuatu, yg itu jadi factor pembeda atas lainnya. Jadi kehebatan adam, yg kemudian diangkat menjadi khalifah disebabkan kemampuannya mengidentifikasi sesuatu dengan nama.
Salah satu ciri orang cerdas, adalah kemampuannya membedaan. Dalam pandangan awan satu hal dipahami dengan ‘apa yg tampak’ oleh mereka yg punya kemampuan analis tajam, penglihatan yg tampak hanya medium awal menuju pemahaman komperhensif dibalik yg tampak. Hingga tak jarang seorang yg punya kecerdasan tertentu, dalam melihat satu masalah berbeda dengan lainnya.
Dalam dunia pemikiran kita mengenal istilah liberal dan konservatif. Dua hal saling berlawanan. Yang satu mengedepankan semangat kebebasan. Semangat yg ‘melabrak’ apa aja yg dianggap sebagai status-quo, sebuah cara pandang yg dianggap out of date. Sebaliknya konservatif, sebuah gaya berpikir ygmenganggap nilai-nilai yg sudah ‘establish’, sebagai sesuatu yg harus diperjuangkan ‘habis-habisan’ karena sudah terbukti menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul. Ada banyak pengalaman yg mengatakan bahwa nilai2 yg tertanam sudah teruji, terbukti mampu menjawab persoalan yang timbul pada masanya.
Dua kutub berbeda ini, sebetulnya punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Kenapa kelebihan yang satu tidak bisa menutupi kekuarangan lainnya. Justru poin utamanya pada penghargaan terhadap keragaman cara penyelesaian persoalan.
Sekali lagi… dee mampu menyatukan kutub yang dianggap ‘bertentangan’ itu…. salut…